PADA webinar yang diadakan pada Kamis, 26 November 2020 kali ini, mulanya mahasiswa kurang antusias. Mungkin diakibatkan karena waktu yang sudah cukup sore sekitar pukul 16.00 sampai 18.00 WIB dan ada beberapa kelas yang baru menyelesaikan perkuliahannya. Beberapa peserta pun masih enggan untuk menyalakan video kamera mereka. Presentasi yang mengangkat tema “Pertemananku Membangun dan Bermanfaat” yang dibawakan oleh Romo Alexander Erwin Santoso MSF ini dimulai seperti pada umumnya, beberapa point dijelaskan oleh Rm. Erwin secara detail satu persatu. Penjelasan yang diberikan oleh Rm. Erwin bagaikan sebuah “tamparan” bagi para mahasiswa karena sangat berkaitan dengan kehidupan yang tengah kami jalani saat ini.

Tak hanya membahas peran perempuan dalam lingkup pertemanan dalam webinar yang dihadiri kurang lebih 313 peserta ini juga membahas percintaan dan kekeluargaan pun dibahas oleh narasumber. Banyak pula pernyataan-pernyataan beliau yang disetujui oleh para peserta. Seperti, perempuan itu kurang rasional, perempuan sangat sensitif dan perempuan sangat mudah untuk luluh entah karena seuntaian kata manis atau belaian kasih sayang. Tapi Romo Erwin tak lupa menegaskan beberapa pesan kepada kami para perempuan agar kami tidak mudah dibodohi dan disitulah peran sahabat bermain, untuk selalu membimbing kita dan menasihati kita apabila kita sudah keluar jalur. Memilih seorang sahabat pun juga tidak bisa sembarangan, harus yang sejalan dengan kita dan selalu bisa bersama kita agar mudah untuk dipantau. Adapun pesan-pesan beliau, “Mencintai itu tidak ada salahnya, tetapi apabila sudah mengarah ke hal yang tidak seharusnya, bersikap tegaslah kepada hubungan tersebut. Jangan mudah dibutakan cinta.” Kemudian beliau menambahkan, “Ketika kamu tidak sanggup mengutarakan hal yang sebenarnya kepada seseorang (entah teman atau pasangan), tuliskan pesan tersebut dan sampaikanlah. Karena tidak semua manusia memiliki mental yang sama.”

Sesi terseru dalam kegiatan ini adalah sesi tanya jawab. Keterbukaan Rm. Erwin membuat para peserta terus melontarkan pertanyaan mereka, walaupun moderator telah memperingatkan batas waktu. Rasa-rasanya semua pertanyaan yang dikeluarkan oleh mahasiswa adalah curahan hati dan pengalaman hidup mereka seperti misalnya, “Romo, aku punya teman tetapi mengapa ya dia selalu insecure? Mengapa ya Romo, kok kalau sesama perempuan bertengkar waktunya akan sangat lama bahkan sulit untuk berdamai? Romo, saya punya teman, dia baru saja berpacaran. Tetapi ia lupa dengan teman. Bagaimana ya Romo?”

Mendengar pertanyaan kami, reaksi pertama beliau adalah tersenyum. Namun, beliau tetap menjawab dengan sabar dan tulus. Beliau menasihati kami bahwa perasaan sensitif kami membatasi kami para perempuan untuk melihat segala sesuatu. Kami harus banyak menggali ilmu, salah satu caranya dengan membaca literatur tentang kepribadian agar kami punya kacamata baru untuk melihat betapa luasnya sebuah penilaian. Kecemburuan berlebihan terhadap sesama teman juga tidak baik. Jawab Romo, “Bukankah memang seharusnya begitu? Biarkanlah temanmu untuk me time dengan pasangannya. Kalau dia merasa nyaman dengan keduanya, ia akan membagi waktu kok.”

Moderator juga menyimpulkan bahwa kita sebagai perempuan tetap harus mempunyai pendirian agar tidak mudah terpengaruh dengan siapapun serta terkadang bersikap rasional bagi seorang perempuan juga diperlukan.

Laporan: Admahalum STARKI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *